10/10/26 BINJAI (KINANTAN) Produk kain tenun khas karo (Uis) hasil kelompok pengerajin komunitas Karya Bunda di Kota Binjai ternyata tidak hanya diminati pasar lokal atau nasional saja, namun juga sudah sampai ekspor ke luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia.


Keberadaan komunitas penenun tradisional Uis Karo Karya Bunda yang beralamat di Jalan Kutilang, Keluarahan Mencirim, Kecamatan Binjai Timur ini masih eksis melestarikan kebudayaan etnis Karo melalui produk kain etnik yang memiliki nilai jual yang tinggi.


Hal itu disampaikan Ketua Karya Bunda, Ade Fitri, usai menerima kunjungan tim penilai lomba Kampung Kreatif Berkah Sumut yang datang untuk meninjau, Jumat (8/10) siang.


Dijelaskannya, produk yang dihasilkan penenun Uis Karya Bunda memiliki nilai jual pasar yang cukup komersial karena proses pembuatannya penuh ketelitian dengan menggunakan alat tenun khusus tradisional bernama Gedokan. 


"Untuk produk-produk yang kami hasilkan murni dibuat dari alat tradisional Gedokan, bukan mesin buatan. Sehingga hasilnya pun memiliki kualitas tinggi dengan sentuhan motif-motif khas etnis karo yang bernilai budaya," ucapnya.


Komunitas penenun kain Uis khas etnik Karo bernama Karya Bunda ini sudah berdiri sejak tahun 2019. Komunitas ini memiliki sekitar 25 anggota penenun.


"Mereka ini adalah penenun handal yang sudah memiliki pengetahuan menenun dari nenek moyangnya yang diwariskan secara turun menurun. Jadi tidak sembarangan orang bisa menjadi penenun kain Uis ini karena memang harus memiliki garis keturunan," ucapnya.


Proses pembuatannya pun cukup rumit dan memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi. Saat menenun banyak ritual adat yang harus dikerjakan, seperti misalnya ketika menenun tidak boleh cemberut karena hasilnya juga akan beda, lalu saat alat yang dipakai tidak sengaja terlempar, maka penenun tidak bisa melanjutkan karena ada pantangannya.


"Sebelum kain ini ditenun, para penenun harus bisa menghitung secara pas jumlah benang yang akan ditenun, karena tidak boleh berkurang atau berlebih sedikit pun karena pasti akan tidak bagus hasilnya," ujarnya. 


Lebih lanjut dikatakan Ade Fitri, proses produk yang dihasilkan dimulai dari pemilihan bahan baku benang yang diproses sendiri menggunakan tepung kanji, kemudian benangnya di urai satu persatu. Selanjutnya benang-benang tersebut dipintal atau di sorha sebelum akhirnya ditenun dengan motif corak khas etnik Karo atau mati bobok menggunakan gedokan.


"Jadi proses pembuatannya memang rumit dan harus memang dibuat oleh ahlinya, makanya produk yang dihasilkan memiliki nilai jual relatif sedikit lebih mahal," tutur Ade Fitri. 


Sedangkan produk kain tenun Uis yang dihasilkan telah menembus pasar lokal seperti daerah Medan, Tanah Karo dan Deli Serdang. Bahkan sudah terjual sampai ke kota-kota besar seperti Jakarta.


Untuk harga yang dibandrol mulai dari yang paling murah dijual seharga Rp300 ribu, kemudian yang sedang Rp600 ribu dan yang paling mahal sampai Rp20 jutaan.


"Biasanya banyak seller yang memesan produk kami dari daerah Tanah Karo untuk mereka jual kembali disana. Tapi banyak juga yang memesan untuk acara pernikahan dan biasanya untuk satu set pakaian pengantin kami jual sampai seharga Rp20 jutaan," ujarnya. 


Untuk para penenun sendiri, biasanya memang sudah mendapat keterampilan menenun yang diajari dari nenek moyangnya secara turun menurun. Sehingga selain mempertahankan tradisi leluhur nenek moyangnya keberadaan penenun kain Uis khas etnik Karo di Binjai menjadi generasi yang masih mempertahankan tradisi budaya dari leluhur nenek moyangnya.


Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi yang juga menjabat Staf Ahli Walikota Binjai, Gloria Sinulingga mengatakan, pihaknya siap membantu para pelaku UMKM industri kreatif seperti penenun kain Uis etnis Karo agar mendapat pembinaan dan membantu ikut memasarkan produk mereka. 


"Kami sangat mengapresiasi sekali dengan produk-produk yang dihasilkan pelaku UMKM dari etnis karo ini makanya kami siap membantu untuk memasarkan produk mereka ke pasar yang lebih luas baik lokal, nasional hingga internasional," sebutnya.

Selain akan ikut membantu memasarkan, Gloria Sinulingga juga akan melakukan edukasi cara membuat Uis Karo agar lebih bagus dan lebih berkualitas.


"Hasilnya agar lebih bagus supaya pangsa pasarnya lebih tinggi. Mereka yang tergabung dalam Uis Karo ini memang cukup luar biasa dan pembelinya sudah meluas. Hanya saja hasil produksinya masih terlalu kecil karena tingkat kesulitan pembuatan agak tinggi.sehingga pemasarannya juga masih terlalu sedikit," ungkap Gloria Sinulingga. 


Dengan adanya pembinaan berikutnya, Gloria berharap sudah bisa menjadi juara dalam lomba kreasi kampung kreatif ini. 


"Kedepan mungkin kita akan melakukan evaluasi kembali, mulai dari bahan baku kemudian pekerja, sehingga hasil memadai dan bisa kita pasarkan keluar Kota Binjai," demikian tutup Gloria Sinulingga, seraya memohon kepada rekan rekan media untuk membantu me-upload ke Media Sosial agar masyarakat Binjai mengetahui keberadaan Tenun Tradisional Uis Karo Karya Bunda. (LC)

أحدث أقدم